Jatipuro.net

SITUS VIRTUAL KOMUNITAS WARGA JATIPURO

eling

“ELING LAN WASPADA” SEBUAH KONSEPSI MORAL RANGGAWARSITA
Oleh: Otto Sukatno CR

Amenangi zaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, mboya keduman melik, kaliren wekasanipun, dilalah kersane Allah, begja begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada! (Serat Kalatida: Sinom: 7)
(Berada di zaman yang edan (gila), akan senantiasa kebingungan dalam sikap dan perilaku. Kalau ikut menggila, tidak mungkin akan tahan. Tetapi kalau tidak ikut-ikutan tak akan mendapat bagian [jatah—terakses segala kepentingan sosial, ekonomi, politik dan budaya atau pergaulannya] yang ujung-ujungnya hanya akan kelaparan. Namun karena sudah menjadi kehendak (takdir) Tuhan, sungguh seberuntung-beruntungnya orang yang lupa diri, tetap akan beruntung orang yang senantiasa eling (awas) dan waspada)
Syair yang sangat alegoris dan indah karya pujangga besar Keraton Surakarta, R. Ng Ranggawarsita ini adalah salah satu karyanya yang paling banyak disitir orang, untuk menggambarkan situasi kesemrawutan nilai “sosial, ekonomi, politik dan budaya” –berikut dengan nilai-nilai moral, tata etik dan kesusilaan serta nilai-nilai manusia dan kemanusiaan– yang terjadi dilingkungan sosial, kultural dan politik makro yang diidentitifikasi dan mengidentifikasi dirinya. Sebuah “kesemrawutan nila”i yang didesain dan sekaligus mendesain masyarakat pendukungnya, menjadi semacam sistem, tata laku dan pola laku yang muaranya membawa dampak pada hancurnya kredibilitas nilai manusia dan kemanusiaan kita.
Sebagai manusia produks masyarakat dunia ketiga dengan mentalitas urbannya—yakni mentalitas transisional, terlepas dari sistem, kolonial menuju independensi (kemerdekaan), kebebasan dan demokrasi yang dicita-citakan secara ideal, meski tak kunjung menampakan wajah praksisnya– lewat sistem yang dibentuknya, biasanya tidak jarang akan terjatuh pada situasi nadir seperti itu. Situasi nadir yang bersifat transisional yang berada dalam ketegangan antara kenyataan rusaknya “mentalitas masyarakat” dengan keinginan-keinginan terbentuknya sistem ideal yang, tak kunjung mereka rasakan. Dalam kenyaataan itu diisadari atau tidak, syair di atas Ranggawarsita, jelas-jelas menyuarakan dan mengindikasikan adanya situasi tegang akibat kerusakan moral yang sedemikian paraht dari penyakit sosial akut KKN (kolusi, korupsi dan nefotisme) yang bergerak dari mentalitas urban tersebut.
Fenomena itu, ternyata telah menjadi fenomana abadi yang terus menghantui masyarakat bangsa ini. Artinya hal itu tidak hanya terjadi di masa lalu—sewaktu R. Ng. Ranggawarsita hidup dan merepresentasikan karya-karya—tetapi juga terjadi (dan tetap aktual) di masa kini. Simak misal Kalatida: Sinom : 2 dimana R, Ng. Ranggawarsita menyatakan:
Ratune ratu utama, patihe patih linuwih, pra nayaka tyas raharja, penekare becik-becik, parandene tak dadi paliyaseng Kalabendu, malah sangkin andadra, rubeda kang ngribedi, beda-beda ardane wong sanagara
Raja atau kepala negaranya, raja yang utama, patih atau wakil dan pembantu-pembantu sangat linuwih– sangat sakti atau utama—para pejabatnya bagus-bagus, penekar (ulama dan intelektualnya) baik-baik. Tetapi kenyataannya tidak dapat menjadi sarana untuk dapat memperbaiki dan membendung datangnya (zaman) Kalabendu—zaman yang banyak bebendu, kerusakan dan kehancuran. Justru malah semakin menjadi-jadi, sehingga sangat merepotkan, karena adanya berbagai macam keinginan, perilaku dan nafsu serakah dari manusia di seluruh negeri penghuninya.
Serat Jangka (Ramalan)
Begitulah salah satu andil besar pujangga R. Ng. Ranggawarsita telah mengamanatkan dalam karya-karya (yang bersifat) ramalannya. Karya-karya sastra yang bersifat “ramalan” (futuristik) ini, di dalam kazanah sastra dan budaya Jawa, biasanya disebut sebagai atau di kelompokkan ke dalam Serat Jangka (Serat atau karya Sastra Ramalan)
Hingga sekarang ini, pembahasan tentang Serat-Serat Jangka atau ramalan-ramalan Ranggawarsita memang terus banyak dilakukan. Baik dalam konteks kultural. Yaitu mengenai syair-syair indahnya dalam kazanah sastrawi atau literer yang bersifat akademik fakultatif. Maupun dalam konteks sosio-politik makro. Yakni berupa ramalan-ramalannya yang sangat berpengaruh, baik di masa lalu (masa penjajahan), bahkan hingga dewasa ini.. Namun di luar itu, ternyata belum banyak pembahasan Serat-Serat Jangka Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam kontek filosofis, yaitu melakukan pengkajian sedalam-dalamnya. Sehingga menemukan tafsir dan pemahaman baru atas teks berikut kaitannya dengan konteks sosial makro dari apa yang tersurat serta tersirat di dalam karya-karya itu.
Beberapa pembahasan dalam konteks kultural telah dilakukan, mislanya oleh Brata Kesawa, R. Ng. Sastra Sadarga, dan Kamajaya. Brata Kesawa melakukan pembahasan dengan judul Djangka Ranggawarsi tan: Joko Lodhang, Kalatidha, Sabdotomo, Sabdojati, Kalatidha Piningit, Wedhatama Piningit, diterbitkan oleh penerbit buku Eyang Brata, Yogyakarta tahun 1957. Buku itu memuat Serat-Serat Jangka Ranggawarsita, dengan diberi centangan atau keterangan-keterangan dalam bahasa Jawa. R.Ng. Sastra Sadarga menulis dengan judul buku Jangka Ronggowarsito: Sabdo Pranowo, Joko Lodhang, kalatidha yang diterbitkan oleh Sadoe-Boedi, Solo.
Dalam buku itu Sastra Sadarga membuat jarwa (prosa) dari serat-serat jangka tersebut. Kamajaya menulis dengan judul Lima Karya Pujangga Ranggawarsita yang diterbitkan oleh Departemen P dan K, tahun 1980. Buku ini lebih komplit dengan memuat tembang aslinya, Jarwa (prosa), terjemahanya dalam bahasa Indonesia, dan kamus kecil.
Pembahasan dalam konteks sosio-politis telah dilakukan, antara lain, oleh Andjar Any dalam buku Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita, dan Sabdopalon yang diterbitkan Aneka Ilmu Semarang. Dalam buku itu Andjar Any melakukan kupasan tentang ramalan-ramalan yang terdapat dalam Serat-Serat Jangka Ranggawarsita, serta pengaruhnya terhadap bangsa Indonesia pada saman revolusi kemerdekaan. Menurut Andjar Any, kaum pergerakan dan pemimpin rakyat senantiasa mempergunakan ramalan (dalam serat-serat jangka) untuk memompa semangat, membangkitkan kepercayaan serta harapan rakyat
Pembahasan secara filosofis pernah dilakukan oleh Karkana Partakusuma terhadap salah satu Serat Jangka Ranggawarsita, dengan judul buku Zaman Edan, Pembahasan Serat Kalatidha Ranggawarsita. Menurut pendapatnya Serat Kalatidha merupakan buku filsafat, yang didalamnya mengandung ajaran-ajaran (moral ). Pembahasan semacan ini pernah juga dilakukan oleh beberapa mahasiswa dalam bentuk skripsi. Namun pembahasan itu dilakukan hanya pada satu diantara beberapa Serat Jangka Ranggawarsita saja yang bersifat terpisah. Sehingga yang menurut hemat kami hal ini akan membuat pemahaman yang kurang sempurna dan signifikan terhadap berbagai makna konsep-konsep ajaran–termasuk di dalamnya mengenai moral—Ranggawarsita secara menyeluruh. Karena pokok-pokok pikiran folosofis tentang ajaran moral dalam Serat Jangka, anatara yang termuat dalam salah satu karyanya seratnya berkaitan atau saling melengkapi yang terdapat dalam serat Jangka yang lain.
Hal itu dapat dllihat, misalnya ketika Ranggawarsita menyampaikan ajaran moral dalam Serat Kalatidha, Sinom: 8:
.., nuhung mahasing ngasepi, supayantuk parmarmanlng Hyang Suksma.(.. ., tinggal ditempat yang sepi [mendauhkan diri dari keduniaan], supaya mendapat kasih sayang Tuhan.)
Dalam serat itu diajarkan, sebagai mahluk Tuhan hendaklah manusia menghadapkan permohonan hanya pada-Nya. Kemudian ajaran itu dilengkapi dalam serat jangka yang lain, bahwa Tuhan akan mengabulkan permohonan hamba-Nya apabila ia bersungguh-sungguh. Serat Sabdajati, Megatruh: 10:
Anuhoni kabeh kang duwe panyuwun, yen temen-temen sayekti, Allah aparing pitulung, nora kurang sandhang bukti, saciptanira kalakon. (Tuhan menepati janji-Nya kepada semua yang mempunyai permohonan, Jika bersungguh-sungguh tentulah, Allah member! pertolongan, sehingga dia tidak kekurangan sandang pangan, semua yang dicita-citakan dapat terkabul.)
Informasi-informasi tersebut mendorong minat kami untuk melakukan pembahasan lebih lanjut, tidak sa,ja pada salah satu dari ajaran mengenai ramalan Ranggangwarsita yang terdapat dalam satu Serat Jangka saja, tetapi terhadap beberapa Serat Jangka Ranggawarsita. Yang diharapkan akan mendapatkan satu pemahaman yang signifikan dan menyeluruh, terhadap seluruh konsep dan ajaran R. Ng. Ranggawarsita, terutama yang menyangkut ajaran-jaran moralnya yang ternyata terbukti sangat ampuh mempengaruhi masyarakat Jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Artinya ramalan-ralaman R. Ng. Ranggawarsita yang teraktualisasi dalam Serat Jangka tersebut terasa, tetap aktual hingga saat ini di negeri ini.
Eling lan Waspada.
R. Ng, Ranggawarsita, lebih dari 100 tahun yang lalu, telah memberikan pedoman bagaimana menghadapi persoalan-persoalan yang berat dan komplek menyangkut sistem sosial-kultural dan politik makro yang dihadapi masyarakat bangsanya. Prinsif utama yang ditawarkan R. Ng. Ranggawarsita, dalam menghadapi masalah-masalah kerusakan moral yang terkait dengan mentalitas masyarakat serta sistem, sosial-kultural dan politik makro, adalah dengan selalu mengedepankan konsep Eling lan Waspada. Yaitu selalu ingat, awas dan selalu waspada. Yakni selalu eling terhadap ketentuan Yang Maha Kuasa (Tuhan), selain itu harus selalu disertai dengan selalu awas dan waspada dalam setiap perilaku dan tindakan serta terhadap munculnya berbagai bentuk perubahan di masyarakat sosial, baik dalam skala lokal dan nasional sekaligus internasional (global). Juga terhadap segala perubahan yang bergerak dari kzanah ekologi (bisofir) global.
Dengan bentuk ke-eling-an dan kewaspadaan itulah kita akan dapat menentukan bagaimana ketika kita harus bertindak, mengindentifikasi mengapresiasi dan merepresentasikan diri kita, di hadapan berbagai problem dan persoalan hidup sosial masyarakat kebangsaan makro sekaligus global tersebut, secara lebih pas dan membumi sesuai dengan kebutuhan, kepentingan dan kehendak zamannya.
Karena lebih lanjut di dalam serat-serat Jangka (ramalannya) R. Ng. Ranggawarsita mengajarkan bagaimana mustinya manusia harus berhubungan dengan Tuhan (ajaran moral Ketuhanan dan religiusitas), diri sendiri (ajaran moral personal-individual) berikut dengan sesama manusia lainnya (ajaran moral sosial) serta dengan alam lingkungannya (ajaran moral ekologis), serta dengan adanya berbagai bentuk kebobrokan moral, cara penanggulannya serta tawaran terhadap kondisi moral ideal (Ideal morality)
Dalam hubungan manusia dengan Tuhan, R. Ng. Ranggawarsita mengajarkan tentang kepercayaan terhadap Tuhan (religio). Karena menurutnya jika manusia tidak mempunyai kepercayaan kepada Tuhan, ia akan menjadi manusia yang sangat lemah. Yang diiabaratkan seperti kertas yang mudah digunting-gunting sesuka hatinya. Sebab di sana diyakini bahwa Tuhan, sebagai tempat untuk memohon. Dan Tuhan akan mengabulkan permintaan hambanya, jika ia bersungguh-sungguh. Di sini lain Tuhan juga mempunyai kehendak yang musti bakal terjadi, jika waktunya telah tiba. Namun jika belum sampai pada waktunya tersebuit, apapun yang dilakukan, atau diperbuat manusia, ia teta[ tidak akan merubah kehendak Tuhan. Inilah yang nota bene disebut sebagai grand design takdir. Namun demikian, meski manusia akan selalu terkooptasi oleh grand design takdir, manusia tak boleh berpangku tangan, tanpa sedikitpun mau berusaha dalam menghadapi takdir tersebut,
Dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, diajarkan bahwa manusia hendaklah selalu mencari “tekad selamat”, sebagai wahana untuk mencari keselamatan dan kesenangan hidup. Dimana R. Ng, Ranggawarsita mengamanatkan, carilah “tekad selamat” sampai ketemu. Dimana cara untuk mencarinya adalah dengan hati yang sabar dan mantap. Karena bila tanpa kesabaran dan kemantapan hati ini, menurutnya manusia akan mudah terjerumus, ke dalam perbuatan yang dianggap salah.
Sementara dalam hubungan dengan pribadinya, diamanatkan manusia hendaklah selalu mawas diri. Bahwa tidak seharusnya manusia semata-mata mendabakan mahasing ngasepi: bermenung-menung, menghabiskan waktu, hanya semata menunggu panggilan atau kemurahan Tuhan semata, tanpa mau berusaha. Dalam hal ini hendaknya manusia harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga dan pikirannya
Dalam hubungan dengan sesama makhluk dan lingkungan alam (ekologi global), R. Ng. Ranggawarsita mengamanatkan kepada manusia tentang bagaimana ia bisa mencapai keselarasan sosial dan keselarasan kosmik (alam). Dimana menurutnya, di dalam kehidupan amsyaraka ini, hendaknya selalu terjalin keselarasan sosial, baik antara yang miskin dengan yang kaya, yang pandai dengan yang bodoh, rakyat dan pejabat (elite politik) semua harus selaras. Yakni terjadinya Manunggaling Kawula Gusti, rasa menyatunya antara rakyat dan penguasa. Sekaligus sebagai sub sistem teologi sebagai bentuk rasa menyatunya manusia (kawula) dengan Gusti (Tuhan), yang bernilai religius (spiritualitas). Karena terjadinya gap, atau jurang pemisah antara masing-masing komponen hidup dan kehidupan itu, akan menimbulkan permasalahan sosial yang komplek dan tak terelakkan. Maka dari itu, seyogyanya manusia, harus dapat melindungi sesama hidup dan kehidupan, termasuk alam sebagai tempat habitat ekologinya, dengan cara mengalahkan sifat angkara murka (nafsu amarah). Dan membuang anasir perbuatan atau sifat-sifat yang dianggap salah.*** Otto Sukatno CR; Pemerhati sosial Budaya dan Ketimuran (Agama dan Filsafat Jawa).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: