Jatipuro.net

SITUS VIRTUAL KOMUNITAS WARGA JATIPURO

tarub

SIMBOLISME TARUB
Dari Kuasa Sosial Politik Mataram Hingga Seksualitas Jawa
Oleh: Otto Sukatno CR

ANGGARA Kasih, terputusnya tali kasih, antara Nawangwulan dan Nawangsih. Inilah hari dimana Dewi Nawangwulan, bidadari yang diculik keperawanannya oleh Jaka Tarub menemukan kembali sayap bidadarinya. “Nawang” makna secara harafiah adalah “melihat, menerawang”. Sedangkan “wulan” adalah bulan. Di bulan itulah nota bene Dewi Nawangwulan—sebagaimana keyakinan masyarakat Jawa–menunggu sepi, merenungi diri karena terusir dari komunitasnya di kahyangan, disebabkan ia telah kehilangan makna esensial kebidadariannya. Yakni keperawanan sebagai basis esensial kewanitaan menuju keibuan atau keperempuannya. Artinya “perempuan” yang bermakna yang “empu”nya rahim. Dimana “rahim”. Dalam bahasa Arab bermakna kasing sayang. Dimana menjadi ibu, sebagai sub sistem prokreasi penciptaan demi kelangsungan kemanusiaan dan ketuhanan, perempuan harus selalu mereproduksi kasih sayang. Sebab hanya dalam kasih sayang itulah sebuah generasi memiliki basis-basis signifikansi bagi identifikasi dan perkembangannya. Itulah sebabnya bagi seorang wanita, untuk mereproduksi kerahiman (kasih-sayang) pertama-tama harus rela meninggalkan ikon esensial kewanitaanya, keperawanan. Perawan atau prawan, secara iseng menganut alur teori otak-atik mathuk ala Jawa, “pra” artinya sebelum, wan atau “one” dalam bahasa Inggris artinya satu atau yang pertama. Jadi dinamakan prawan, hanya jika seorang perempuan sebelum melakukan hubungan seksual. Selebihnya ia mustinya menjadi ibu, yang mereproduksi kasih sayang bagi generasi yang ia lahirkan..
Itulah sebabnya karena reproduksi kasih sayang dari ke-rahim-annya pula, dari bulan, Dewi Nawangwulan menerawang ke bumi melihat “buah cinta kasihnya—Nawangsih—yang ia tinggalkan”. Dari basis kazanah masif inilah kemudian dalam masyarakat Jawa tumbuh semacam anutan nilai atau sebuah keyakinan, jika seseorang memiliki bayi yang “rewel” terus menerus, apalagi pada malam hari, ada baiknya segera dibawa keluar. Dengan harapan agar mendapatkan pancaran kasih sang rembulan (Dewi Nawangwulan). Yang secara rasional, agar ia tidak suntuk dan sumpek di dalam rumah atau supaya mendapatkan “hawa” baru.
* * *
KARENA alat pengesahan (legitimasi) kekuasaan ala Jawa yang digunakan adalah garis keturunan atau unsur genealogis, yang merupakan titik hubung antara Clan yang memerintah dengan Clan atau nenek moyang yang diidealkan, yakni mereka yang dianggap sebagai keseluruhan leluhur. Dalam Babad Tanah Djawi, terungkap bagaimana hubungan raja-raja Mataram sebagai keturunan dinasti-dinasti sebelumnya, misalnya Dinasti Majapahit, Singasari, Kediri, Kahuripan, dunia pewayangan (Parikesit, Arjuna, Sakri dan seterusnya), dunia dewa-dewa Hindu seperti Brahma, Guru (Siwa), Wenang-Wening, Tunggal dan seterusnya. Dimana pangkal genealoginya adalah tokoh Nabi Adam (Baca: W.L Olthof., s-Gravenhage: M. Nijhoff; 90) Dinama mitos Jaka Tarub-Nawangwulan ini pada akhirnya dianggap sebagai salah satu bentuk missink link (garis hubung) antara raja-raja Mataram dengan dunia dewa-dewi. Sehingga Jaka Tarub Nawangwulan juga dipercaya sebagai salah satu “leluhur mitis” yang menurunkan trah raja-raja Mataram.
Kata “mataram” secara morfologis bermakna “mata air yang harum”. Dan keharuman Mataram sebagai kerajaan atau sebagai ikon budaya, setidaknya terus mengalir lewat berbagai strategi kuasa, yang oleh banyak pengamat, misal Denys Lombard dalam buku master peacenya Nusa Jawa: Silang Budaya (l996) menyatakan bahwa sistem dan strategi kuasa Mataram itu masih diwarisi oleh para elite republik ini. Misalnya lewat pendirian Monumen Nasional (Monas) dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang menegaskan sebagai “mandala” sekaligus menjadi presentasi pembagian “struktur ruang” republik (bangsa) ini yang mengacu pada pembagian “struktur ruang keraton” Mataram dan dinasti-dinasti sebelumnya dari Majapahit hingga Kahuripan, bahkan lebih jauh lagi.
Hal yang paling pokok dan esensial, pewarisan strategi kuasa Mataram ini juga dapat dilihat dari keinginan untuk menegaskan bentuk nyata dari bentuk keistimewaan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) dalam bentuk produks undang-undang yang disemangati oleh Otonomi Daerah, yang menetapkan raja-raja Mataram (Sultan Hamengku Buwana X) dan Patihnya (Paku Alam IX) dan seterusnya secara genealogis (turun-temurun) sebagai Gumbernur dan Wakilnya di DIY. Keinginan demikian, hemat kami menjadi adalah sebuah pemikiran primordialis yang sempit, berangkat dari kepentingan (kekuasaan) sesaat dan kurang memperhatikan aspek-aspek lain yang lebih signifikan dan urgent demi kelangsungan Yogyakarta sendiri sebagai daerah istimewa maupun Yogyakarta sebagai “kota budaya” [baca: musium, basis, barometer dan signifikannya budaya tradisional (Jawa)].
Sebab hemat kami, demi kepentingan dan masa depan Yogyakarta yang lebih baik dan signifikan serta sesuai dengan alam demokrasi modern,sekaligus tidak meninggalkan derajad esensial “keistimewaan” Yogyakarta, akan lebih pas dan ideal jika Sultan serta Patihnya (Paku Alam) lebih diposisikan sebagai “Pemimpin Daerah”. Yang menjadi simbol pemersatu dan pengayom pluralisme budaya masyarakatnya berserta pemikiran dan politik aliran yang ada di dalamnya. Sementara sebagai Kepala Pemerintahan –yang menjalankan tugas-tugas eksekutif–dari Dati I Yogyakarta akan lebih pas jika dipilih langsung oleh rakyat. Artinya ia bertugas laksana Perdana Mentri, sebagaimana Inggris dan beberapa banyak negara lainnya.
Dengan demikian fungsi Sultan (raja) sebagai pengayom, pemersatu serta sebagai ikon budaya akan tetap lestari serta memiliki derajad utulitas yang signifikan. Dimana raja dan patihnya dapat menjadi kekuatan penyeimbang (balances) yang harmonis bagi pemerintahan DIY. Selain itu Sultan (raja) akan memiliki wilayah dan posisi tawar yang luas dalam skala makro (nasional) di republik ini. Artinya ia dapat menjadi penyambung lidah, tidak saja terhadap rakyatnya sendiri di Yogyakarta, tetapi juga secara nasional. Bahkan dimungkinkan ia dapat pula menjadi “Bapak Bangsa”. Artinya peran Sultan mestinya lebih bersifat nasional, ketimbang primordial kedaerahan.
Selain itu, Yogyakarta yang nota bene dimistifikasi dan dimasifikasi sebagai “pelopor demokrasi” pun memiliki derajad afirmasi, apresiasi dan determinasi secara lebih signifikan pula. Sebab jika bentuk “keistimewaan Yogyakarta”, diwujudkan dalam bentuk penetapan Sultan dan Patihnya (Paku Alam) sebagai otomatis Gubernur Kepala Daerah Tingkat I DIY, maka dengan sendirinya akan berakibat paradoks, dengan kepeloporan demokrasi yang dicanangkan. Artinya nafas feodalisme justru kian signifikan, yang muaranya akan berdampak kurang baik bagi kelangsungan Yogyakarta di masa-masa yang akan datang, ketika iklim dan nilai-nilai demokrasi benar-benar terwujud secara yang harmonis di republik ini. Selain itu hanya akan mempersempit peran dan fungsi Sultan di kancah strategi politik dan kebudayaan nasional.
* * *
SELAIN itu keharuman “mata air” Mataram secara masif dapat dilihat dalam simbol-simbol dan strategi budaya serta mitos-mitos ciptaannya. Wajar jika kisah masif Jaka Tarub-Nawangwulan itu sampai sekarang masih dilestarikan dalam ingatan masif dan perilaku budaya masyarakat pendukungnya. Semisal ketika orang Jawa mengadakan upacara perkawinan, yang menjadi ikon (tanda esensialnya) pertama dan utamanya adalah “Pasang Tarub”. Dalam bentuk “Janur Melengkung”
Tradisi pemasangan Tarub itu menandai bahwa salah satu dari anggota keluarga itu, ada yang telah terculik hatinya, Sehingga harus diikat dalam satu jalinan hidup berumah tangga (keluarga) yang pasti agar tidak menimbulkan ekses yang kurang berkenan di hati semua pihak. Karena orang Jawa memandang seks secara esensialis. Seks sebagai suatu yang bersifat masif dan privacy (domestik). Hubungan seks, hanya disyahkan dan atau diperbolehkan dalam rangka perkawinan. Sehingga jika ada dua orang berlainan jenis yang tidur (hidup serumah) bersama secara tidak syah, para kerabat dan tetangga akan ribut
Artinya ketika Tarub telah dipancangkan secara tegas juga menjadi semacam pengumuman serta pengikatan dan bentuk penguasaan atau kepemilikan. Bahwa adanya hak dan kepemilikan esensial antar satu dan lainnya. Bahwa akhirnya siapapun tak lagi berhak dan boleh mengganggunya lagi. Karena sudah ada ruang pembatas sekaligus ruang pembebas yang mengesahkan aktifitas (seksual) mereka secara bersama. Karena sudah ada “Janur Melengkung” sebagai lambang pengikatan tersebut.
Di sisi lain Tarub juga menandai, adanya hak dan kepemilikan (eksistensial) yang menegaskan akan identitas kemanusiaan (identitas fungsional dalam sub sistem reproduksi dan penciptaan). Sekaligus ia adalah lambang dari kemiskinan, perbudakan, kekuasaan dan penguasaan. Dengan demikian Tarub yang dipancangkan, karenanya juga dapat disebut sebagai “pembatasan” dan lambang dari kebutuhan yang harus. Dimana Tarub menjelaskan kedudukan seksualitas secara fungsional dengan berbagai dimesinya yang terkait langsung dalam keseluruhan sistem.
Pada akhirnya Tarub menegaskan bahwa seksualitas dipandang sebagai agregat hubungan-hubungan sosial (pria-wanita, negara-sipil) yang secara khusus terikat dan terkait dengan rejim yang mengatur praktek-praktek kekuasaan—baik kuasa seksual maupun kuasa sosial—melalui bentuk perilaku sosial dimana didalamnya individu mengakui dirinya obyek seksual maupun obyek kuasa sosial-politik (sipil). Sehingga kuasa bisa mengontrol mereka baik secara sosial politik maupun seksual (etika, moral dan budaya).
Disinilah makna Tarub yang dipancangkan juga dapat diapresiasi dan diderivasi sebagai “songgora” (Payung Agung) budaya Mataram. Artinya dengan Sultan (raja) sebagai utamanya, akhirnya akan terus dapat menemukan afirmasi dan derajad utilitas secara lebih esensial dan signifikan atau dapat berkiprah secara lebih makro bagi masyarakat Yogyakarta khusunya dan bangsa Indonesia umumnya, baik hari ini maupun di hari-hari mendatang *** Otto Sukatno CR: Pemerhati Sosial, Budaya dan Ketimuran serta penulis buku Seks Para Pangeran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: