Jatipuro.net

SITUS VIRTUAL KOMUNITAS WARGA JATIPURO

tradisi

KEISLAMAN TRADISI YANG HILANG DALAM SASTRA
Oleh: Otto Sukatno CR
G.W. J Drewes dalam Oriens Extremus (1974) mengungkap, masa kejayaan kerajaan Mataram (Surakarta) terjadilah apa yang disebut renaisance of Javanesse letters. Sebuah kebangkitan kembali kepusatakaan Jawa Baru. Kebangkitan itu berlangsung selama kurang lebih 125 tahun atau lebih. Dapat dikatakan masa pembaruan ini bermula sesudah keraton Surakarta di pindah ke Sala (Surakarta) pada tahun 1745-1746, atau barangkali yang lebih tepat pada tahun 1757 (pada saat perjanjian Giyanti) sesudah situasi politik di Jawa Tengah terkonsolidasi dengan pembagian kerajaan Mataram menjadi tiga kerajaan kecil-kecil di bawah kekuasaan VOC (Pemerintah Kompeni Hindia Belanda). Yakni kerajaan Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta dan Pura Mangkunegaran.
Dengan hilangnya kekuasaan sosial politik, menurut Simuh (l995) seluruh perhatian istana ditujukan bagi perkembangan ruhani. Segala kekuatan dan kejayaan istana dipusatkan untuk mengembangkan, memperbarui kesusasteraan dan kebudayaan Jawa. Inilah yang kemudian lebih lanjut. Simuh menyebutnya sebagai Strategi Kebudayaan Kerajaan Mataram Surakarta . Sebuah usaha untuk mengembalikan kredibilitas istana di kalangan rakyat. Yakni kredibilitas setelah tercabik-cabik oleh sistem politik devide et impera yang dilakukan pihak kekuasaan kolonial Belanda.
Untuk maksud di atas, diadakan jabatan khusus penulis istana, dengan pangkat Kliwon Carik. Dimana pejabatnya diberi gelar kehormatan sebagai Pujangga Dalem (Sastrawan Istana). Pada masa itu ada tiga orang pujangga yang amat berjasa dalam perkembangan kesusasteraan Jawa Baru tersebut. Yakni Yasadipura I, Yasadipura II dan R. Ng. Ranggawarsita. Bahkan di tangan pujangga Ranggawarsitalah, kebangkitan spiritual dan kesusasteraan Jawa Baru itu mencapai puncak kegemilangannya. Ranggawarsita sendiri tercatat memiliki tidak kurang 57 buah karya yang boleh disebut monumental dan lendendaris seperti misalnya Pustakaraja Purwa, Jakalodang, Kalatida, Sabdajati, Sabdatama, Cemporet, Wirid Hidayat Jati dan lain-lain. Belum lagi karya-karya sadurannya, misal Baratayuda, Jayabaya, Panitisastra dan lain-lain. Wajar jika hari kematiannya (24 Desember 1873), disebut-sebut sebagai akhir (kematian) dari kesusasteraan Jawa Baru. Namun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa kebangkitan itu berakhir pada tahun 1881, dengan wafatnya sastrawan Jawa kenamaan, KGPAA Mangkunegara IV, yang terkenal dengan serat Wedatama-nya yang legendaris itu.
Ciri utama kebangkitan spiritual (rohani) dan kesusasteraan Jawa Baru itu, adalah munculnya genre kesusasteraan baru dalam bentuk serat suluk dan wirid. Serat suluk dan wirid ini biasanya ditulis dalam bentuk gancaran–prosa namun sangat menekankan unsur estetika ( puitik) atau lebih tepatnya disebut prosa puitika
Selain itu juga ditulis—ini yang paling umum dan khas—dalam bentuk sastra sekar (Macapat)—yang memiliki tata, teknik dan aturan baku dalam penulisannya. Menyangkut misalnya ketentuan pupuh (satu kesatuan tembang), guru lagu (bunyi akhir pada tiap-tiap baris dalam setiap pupuhnya) guru wilangan (jumlah gatra atau suku kata dalam setiap barisnya)
Tema sentral dari genre serat suluk dan wirid ini, sangat beragam. Dari persoalan filsafat, sosial, budaya, politik, hukum,ilmu pengetahuan, pendidikan, mitologi dan lain-lain. Namun yang paling mencolok adalah menyangkut tata dan sistem norma (etika atau moral) yang bersifat keislamanan yang dikontrsuks dalam keterpaduan dan keinhernan sistem estetika (filsafat estetika yang merumuskan batasan dan nilai-nilai keindahan dari sebuah karya sastra) yang khas Jawa. Itulah sebabnya jika kita kaji secara lembih mendalam, kita akan mendapatkan satu kenyataan yang tak terbantahkan, tema relijiusitas dan spiritualitas (kerohanian) Islam lebih mendominasi dan menjadi ciri umum pada genre sastra jenis ini.
Adapun tema relijiusitas dan spiritualitas itu agaknya didasarkan atas ajaran teologi Islam. Terutama dimensi tasawuf (mistik yang bersifat Wihdatul Wujud atau Manunggaling Kawula Gusti), yang pada masa itu memang menjadi ideologi (teologi/ agama) resmi negara atau kerajaan (baca: Abdul Munir Mulkhan; Syekh Siti Jenar Pergumulan Islam-Jawa: l999 ). Sehingga cukup beralasan jika dalam disertasinya Simuh menyebutnya sebagai puncak kegemilangan Pustaka Mistik Islam-Kejawen. Sebuah konsepsi tasawuf Islam yang telah melakukan kontak agregasi, akulturasi, akomodasi dan kompromisasi dengan ajaran-ajaran (ketimuran/ Jawa). Sehingga melahirkan ajaran Islam yang khas dan spesifik, yang bersifat Ketimuran yang sinkretik.
Meski penyebutan “sinkretik” ini hemat saya kurang tepat. Karena sinkretisasi itu bukan melulu khas Jawa. Tetapi ia menjadi ciri umum, dimana setiap ajaran tasawuf mistik—hampir di semua agama semitik (Yahudi, Nasrani dan Islam) maupun agama pagan (kesukuan) lainnya—ketika melakukan kontak agregasi, akulturasi dan kompromisasi dengan warna budaya dan ajaran lokal, dibelahan dunia manapun, selalu menunjukkan cirinya yang spesifik dan khas. Atau menganut pola-pola yang sama Dimana warna kelokalannya, nampak cukup menonjol. Misalnya di India, Pakistan dan negara-negara Timur Tengah pada umumnya. Artinya sinkretisme yang tiba-tiba seakan khas Jawa, hemat saya lebih karena konstruks orientalis yang mencoba menggenalisir dan menggampangkan persoalan. Sebuah pandangan atau pendekatan structuralism ideology yang kemudian banyak pula diikuti secara membabi buta oleh para oksidentalis (pemikir Timur) ketika memandang ajaran Islam Jawa.
Adapun yang menjadi ciri khusus kedua bentuk genre sastra suluk dan wirid pada periode Surakarta Awal (Mataram Islam) ini adalah: Dalam serat suluk, biasanya isinya membahas tema-tema keislaman secara umum dan beragam. Seperti ajaran mengenai aqidah, falsafah, fiqih, sejarah, mitos, kebudayaan Islam dan lain-lain. Sehingga boleh dibilang, isi atau yang menjadi tema sentral serat suluk adalah tema-tema keislaman pada umumnya sebagaimana tema-tema sentral keislaman dalam pandangan modern dewasa ini. Sebagai contoh, serat suluk yang sangat terkenal adalah Het Books van Bonang yang isinya menceritakan sejarah perjalanan dakwah dan kehidupan Sunan Bonang.
Sementara serat wirid, adalah sebuah serat yang didalamnya memuat ajaran khusus mengenai aqidah (keimanan) keislaman tertentu, yang disertai dengan teknik, laku dan tata aturan (atau tata syari’at serta fiqiah tertentu) yang wajib dilaksanakan oleh penghayatnya. Jika penghayatnya ingin mendapatkan serta meningkatan stadia-stadia (maqam) tertentu sebagaimana faham Mistik Islam Kejawen. Artinya dalam serat wirid, ada ajaran-ajaran khusus yang wajib diwiridkan atau dijalankan secara ketat oleh penghayatnya.
Namun “aqidah keislaman” yang dimaksud di sini adalah aqidah keislaman yang sesuai dengan ajaran Mistik Islam Kejawen, yang bersifat Manunggaling Kawula Gusti tersebut. Artinya ia adalah aqidah Islam yang bersifat khusus sebagaimana ajaran Kejawen dan bukan aqidah Islam pada umumnya. Untuk contoh paling nyata dan signifikan dapat ditilik dalam serat Wirid Hidayat Jati. Itulah sebabnya mengapa karya sastra yang bersifat “suluk” atau yang ditulis dalam bentuk serat suluk pada periode ini lebih banyak ketimbang yang berbentuk wirid. Hal itu terjadi karena watak dan ajaran dari wirid yang bersifat khas dan khusus tersebut.ketimbang ajaran keislaman pada umumnya yang ditulis dalam bentuk serat wirid. Sayangnya, tradisi yang indah ini, kini telah hilang dalam kehidupan sastra, –terlebih sastra Jawa—dan kehidupan keislaman modern kini. (Otto Sukatno CR: penyair dan pemerhati sosial, budaya dan Ketimuran)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: